IMG_20180701_200803-700x400-525x300

Nelayan di Batu-Batu, Hanya Dapat Ikan 1,2 Ekor Perhari, Ini Penyebabnya

SoppengToday – Nasib nelayan di Batu-Batu semakin memperihatinkan, pasalnya, hasil tangkapan ikan mereka semakin minus di tahun ini. Bahkan menyebabkan keputus asaan bagi sebagian warga Batu Batu yang berprofesi sebagai nelayan ini.

Warga Limpomajang Yang Diwawancarai Wartawan

Menurut warga, penghasilan mereka menurun drastis di tahun 2018 ini. Dalam seharian turun menangkap ikan hasilnya terkadang hanya dapat beberapa ekor padahal mereka sudah maksimal berusaha.

“Biasa seharian kita turun menjala ikan hanya dapat 1,2 ekor ikan . Tidak tahu juga apa penyebabnya ini pak, kenapa bisa begini” ucap Manannge (50) warga Sumpang Ale/Kaca Batu-Batu. Sabtu, (30/6/2018).

Terkait minimnya hasil tangkapan ikan nelayan Batu-Batu ini, Kepala Kelurahan Limpomajang Asidi membenarkan hal itu,

“Biasa memang kalau ada warga yang pulang menjala ikan, saya tanya dapat berapa ekor, ia menjawab, cuma dapat 1 ekor pak” Ucap Asidin menirukan perkataan warganya. Sabtu, (30/6/2018)

Menurut Asidi, penyebabnya, tidak terlepas dari empat Faktor sehingga warga mengalami penurunan penghasilan ikan.

“Yang pertama adalah faktor adanya proyek pengerukan danau. Yang ke dua, faktor banyaknya nelayan yang menggunakan pukat harimau, yang ke tiga adalah, penyetroman ikan, dan yang ke empat adalah faktor lenyapnya tumbuhan terapung akibat tingginya luapan air” jelas Asidi.

Menurut Asidi, yang paling parah adalah penyetroman ikan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab mengakibatkan punahnya telur-telur ikan dan anak-anak ikan.

“Ini dilakukan bukan hanya beberapa orang saja, tapi ribuan orang yang melakukan setrum ikan. Dan yang paling banyak datang berasal dari Wajo. Penyetruman ini saya anggap merusak, bahkan bisa mengakibatkan punahnya ikan ikan kecil dan telur ikan” ujarnya.

“Buktinya, ikan Bungo dan ikan sepat (Oseng.red) sudah langkah. Padahal Batu-Batu ini dulunya dikenal penghasil dua ikan tersebut” keluh Asidin

“Pukat Harimau juga termasuk memusnahkan ikan, sebabnya, ikan dibawah jala mati, sementara, ikan ikan yang masih kecil juga diambilnya. Dan juga termasuk hilangnya tempat berteduh yang jadi pembiakan telur-telur ikan yakni, tumbuhan rerumputan yang sudah tidak ada akibat diseret air, faktor luapan air yang meninggi” tambahnya.

Untuk menyelamatkan kelangsungan hidup nelayan dari kelangkaan ikan, menurut Asidi, Solusinya Pemerintah sebaiknya menganggarkan penaburan benih ikan minimal sekali setahun di danau aliran Tempe tersebut.

“Kemudian masyarakat sebaiknya menghidupkan kembali rerumputan terapung guna tempat ikan hidup dalam pengembakbiakan” harapnya.

“Nelayan yang menggunakan cara-cara pukat Harimau dan penyetruman ikan juga harus diberantas habis” pungkasnya. (As)

Tinggalkan Balasan