IMG_20181217_132309-700x400

Ini Bukti Adanya Tradisi Bugis, Sigajang Laleng Lipa

Soppeng Today – Komunitas Pecinta Benda Pusaka Bugis Latemmala tampilkan Kawali (Badik), Senin, 17/12/2018.

Pameran benda Pusaka pada Festival Lagaligo III ini di dominasi oleh benda-benda sajam tradisional, seperti Badik, Keris, Tombak serta benda-benda besi lainnya.

Tak ketinggalan pula komunitas Pecinta benda pusaka Latemmamala menampilkan badik badik dari berbagai jenis yang merupakan karya seni bugis peninggalan leluhur.

Menurut penjaga stand, badik badik ini membutuhkan proses lama dalam mengumpulkan badik badik ini.

“Bukan waktu yang sedikit dalam mengumpulkan badik badik ini. Pasalnya, semua orang bisa membuat badik ini, namun, yang kami koleksi adalah badik badik yang memiliki nilai karya seni yang dubuat oleh para tetua tetua kita,” ungkapnya.

Karya karya ini bukan hanya kita lihat dari tuanya umur badik tersebut akan tetapi didalamnya ada nilai karya seni yang dilakukan oleh orang orang pendahulu kita.

Selain itu, lanjutnya, dimasa pembuatannya tidak segampang yang kita pikirkan, orang orang tua kita dulu dalam membuat badik badik ini membutuhkan konsentrasi dan waktu waktu tertentu diawali dengan puasa dan ritual ritual tertentu untuk mencapai tingkat kesempurnaan pembuatannya

“Seperti yang kita ketahui besi besi tua ini biasanya dihuni oleh jin, maka, jika pembuatan tidak dilakukan dengan cara cara tertentu, badik badik ini bisa menjadi liar yang dapat mendatangkan bencana bagi yang menggunakannya dan berdampak pada orang lain,”

“Jadi intinya orang tua kita dulu membuat badik agar kita bisa mengendalikannya, bukan kita yang dikendalikan melalui aura panasnya yang dipancarkan oleh badik ini,” jelasnya.

Diceritakannya, leluhur kita dulu ada yang gunakan adat tradisi Sigajang Laleng Lipa (Pertarungan Badik Dalam 1 Sarung Berdua) hal ini diberlakukan ketika dalam suatu perselisihan yang tidak menemukan titik temu melalui musyawarah dan Mufakat, maka, persoalan tersebut terpaksa diselesaikan dalam pertarungan “Sigajang Laleng Lipa”.

Sebelumnya, kedua pihak sepakat siapapun yang kalah atau menang maka persoalan tersebut maka dianggap selesai tanpa menyisahkan dendam pada kedua belah pihak keluarga,” ungkap salahsatu Komunitas Pecinta Beda Pusaka Latemmamala yang minta namanya tidak dimediakan.

Sigajang Laleng Lipa ini adalah solusi terakhir, masing-masing pihak memilih senjata badiknya dan bertarung secara adil dan disaksikan oleh pemangku adat, namun rata-rata dalam pertarungan ini keduanya tewas sebagai kesatria yang mewakili keluarga masing-masing,

“Ini adalah bukti tingginya harga diri atau Siri yang dimiliki orang bugis,” pungkasnya. (AT)