IMG-20190118-WA0001-700x375

Bupati Soppeng Akan Kembangkan Wisata Lejja, Menjadi Wisata Bertaraf Internasional

Soppeng Today – Bupati Soppeng H.A.Kaswadi Razak akan mengembangkan Kawasan Wisata Lejja menjadi objek wisata unggulan bertaraf Internasional.

Hal itu disampaikan Bupati Soppeng pada saat wawancara dengan kru TVRI Sulsel di Taman Kalong jalan LamumpatuE Watansoppeng, Jumat, 18/1/2019 setelah meninjau Kerja Bakti di seputaran Halaman Mesjid Darussalam Soppeng.

Terkait dengan pengembangan kepariwisataan di Bumi Latemmamala, Kaswadi menegaskan bahwa pemerintah saat ini semakin mengembangkan infrastruktur penunjang kepariwisataan yang ada di Kabupaten Soppeng seperti pembuatan jalan lingkar dyang menghubungkan Jalan Poros ke Lejja demi mempermudah pengunjung dan menghindarkan macet pada saat high Season atau liburan.

Menurutnya, kedepan Bupari akan membuat wisata Lejja lebih menarik seperti membuat kebun binatang

Ditambahkannya, selain KWA Lejja menjadi Alternatif pengobatan dengan Belerannya (sulfur) yang dipercaya mengobati penyakit gatal dan Rematik, kandungan sulfur ini bisa dijadikan sebagai bahan perawatan Tubuh (sabun) dan Kosmetik.

selain itu, lanjut Kaswadi, di Danau Tempe yang sekarang ini telah dibuat 3 Pulau yang luasnya sekitar 25 hektar per satu Pulau, akan ditat menjadi pulau unik yang menarik yang salah satunya menampilkan kehidupan masyarakat tempo dulue sebelum tersentuh moderinisasi seperti bagaimana masyarakat menangkap ikan dengan alat trdisional.

Menjawab pertanyaan dari repoter TVRI Ayu tentang pengembangan Titik tengah Indonesia yang ada di desa Umpungeng, Bupati menngungkapkan bahwa dari jalan poros ke bulu Batue akan di perbaiki jalanannnya, sedangkan dari Bulu BatuE ke lokasi titik tengah akan tetap dipertahankan keasliannya.

Apa yang menarik di Titik tengah selain Posisinya Tanya Ayu pada Bupati Soppeng A. Kaswadi menjelaskan, selain keindahannya, masyarakat di titik tengah ini sejak jaman dulu mempertahankan budaya dan tradisi yang ada di daerah ini, bahkan ada peraturan bahwa semua orang yang mengunjungi titik tengah harus menjadi orang biasa seperti gelar bangsawan dihilangkan atau gelar gelar lain.
Di umpungeng, semua masyarakat sama, tidak ada bangsawan atau pejabat.

“Yang menarik juga di titik tengah ini adalah fenomena alam yang sering muncul pada saat batu yang ada dititik tengah ini kalau di buka,. Kenapa titik tengah ini ditutup dengan batu purba ?, karena dulu kalau terbuka penutupnya akan muncul pusaran angin yang bisa membahayakan anak-anak, makanya harus ditutup dan dipagari untuk mencegah kemungkinan buruk’,” jelasnya. (Hms/AT)