IMG_20181018_174906

Boomerang, Isu Syirik Festival Lagaligo “Terjawab”

Soppeng Today – Jelang Pelaksanaan Festival Lagaligo yang akan dibuka pada 17 sampai 23 Desember 2018 mendatang. Panitia mengundang Pemkab Soppeng yang diwakili oleh Asisten 1 bersama beberapa SKPD, MUI dan Kemenag yang berlangsung di Sekertariat panitia Lagaligo Jalan Kemakmuran Soppeng pada Kamis, 18/10/2018.

Duduk bersama ini membahas tentang tata laksana Festival Lagaligo, persiapan, dan menjawab isu yang selama ini bergulir bahwa Festival Lagaligo mengandung ritual ritual yang bertentangan dengan Agama Islam.

Dikemukakan Asisten 1 Soppeng A. Sarianto bahwa Festival Lagaligo adalah Seminar Internasional Budaya Bugis Sulawesi Selatan yang akan dihadiri oleh manca negara, Asia dan Eropa.

Sarianto juga menampik isu adanya ritual ritual mistik dalam pelaksanaan Festival Lagaligo.

“Tidak ada Spritual atau ritual ritual yang bertentangan dengan Agama. Adapun yang akan ditampilkan dalam festival tersebut adalah Budaya permainan klasik tanah bugis (Sulsel), seperti Maddaga, Macule api (menari diatas api), maggasing, Mattojang, Mappadengdang, Majjeka, Massallo, dan lainnya ” kata Sarianto, Kamis, 18/10/2018.

“Tidak ada maccera tappareng, Spiritual atau Ritual,” tambah Sarianto menegaskan.

Menurut Sarianto, Festival Lagaligo ini adalah sesi ke Tiga. Yang pertama diadakan di Kabupaten Barru, yang ke dua diadakan di Luwu dan sesi ke tiga di Soppeng.

“Nantinya juga acara ini akan dihadiri oleh para Raja Raja,” ucap Sarianto.

Sarianto juga mengungkapkan, dalam satu kesempatan pak Bupati bertemu dengan Dekan Fakultas Budaya Unhas dan membahas tentang Lagaligo.

“Nantinya pak Bupati akan diajak bertemu dengan Gubernur Audiens terkait festivas budaya Lagaligo,” tutup Sarianto.

Menanggapi isu yang berkembang tentang Festival Lagaligo, Sekertaris Majelis Ulama (MUI) Soppeng Musriadi mengungkapkan, dirinya didatangi oleh wartawan mempertanyakan adanya upaya upaya  yang akan menggalkan Festival Lagaligo.

“Saya katakan bahwa, kami hanya ingin melakukan dialog, agar tidak adalagi terjadi seperti kegiatan kegiatan menuai kritik seperti yang lalu lalu. Kami hanya ingin mengetahui apakah acaranya bernuansa mistis, seperti Maccera Tappareng. Sehingga, kita ingin mempilah mana sebenarnya budaya, mana yang mistiis. Apalagi dengan kejadian di Palu banyak yang mengkait kaitkan peristiwa tersebut dengan budaya yang berbau mistis, Kata Musriadi.

“Semua ini hanya ingin mengcover aspirasi teman teman, kami tidak fokus terhadap Lagaligo akan tetapi secara meluas dalam agama, ujar sekertaris MUI tersebut.

“Kalau Maccera Tappareng yang dilakukan selama ini sepertinya memang ada hal yang bertentangan dengan Agama, bukan hanya sekedar Budaya. Kalau ini di beckup oleh pemerintah, maka hal seperti inilah dikawatirkan oleh teman-teman,” jelas Musriadi.

“Kalau sekedar syukuran itu tidak ada masalah,” tegasnya.

Senada dikatakan Wakil ketua umum MUI yang merangkap jabatan sebagai Kepala Kementrian Agama Soppeng, ” Kami tetap memacu pada fatwa MUI, kalau budaya tidak ada masalah, sepanjang Budaya yang tidak bertentangan dengan agama,” kata DR H. Hazama

Menutup pertemuan ini, ketua Panitia festival Lagaligo Farouk M Adam
lantang menegaskan bahwa tidak ada sorong sorong (sesajen.red)

“Tidak ada Maccera Tappareng,”

“Kalau kita lihat dalam acara Maccera Tappareng, kami melihat memang ada acara sorong sorong (sesajen) tapi dalam Festivas Lagaligo ini tidak ada Maccera Tappareng dan ritual ritual lainnya,” kata Farouk M Adam.

Farouk M Adam menyampaikan pembukaan Festival Lagaligo nantinya akan diadakan di Waduk Ompo. (AT)