IMG_20180818_015956-700x450-630x405

30 Menit Bersama Ketua Komisioner KPU Dalam Tema “Kemandirian Perempuan”

Soppeng Today-Aktivis perempuan yang juga adalah ketua Komisioner KPU Soppeng Andi Sri Wulandani dalam wawancara khusus Soppeng Today yang berdurasi 30 menit di Warkop 527 belum lama ini membahas tentang pentingnya kemamdirian perempuan

Menurutnya bahwa wanita itu harus mandiri, mandiri dalam hal mengambil kebijakan dan tidak mudah di intervensi, bisa mengambil keputusan secara otonom tidak dipengaruhi oleh siapapun. Dalam hal kepemimpinan, perempuan harus bisa jadi pemimpin dan bisa mengambil kebijakan serta mengambil keputusan secara mandiri tanpa dipengaruhi dan di intervensi dan dia percaya pada diri sendiri.

Itulah tantangan wanita pada abad ke 21, kita sudah tidak berbicara tentang emansipasi wanita karena aksesnya sudah terbuka, tapi itulah tantangannya sebab banyak wanita yang masuk dalam posisi dilema, saya juga berusaha keluar dari konsep pemikiran yang cenderung menganggap bahwa perempuan itu lemah. Perempuan harus percaya diri dan perempuan harus bisa mengambil posisi posisi strategis ketika dia memiliki peluang menjadi pemimpin dan bisa mengambil keputusan secara otonom tanpa intervensi dipengaruhi oleh orang, ujarnya

“Perempuan harus bisa menggugurkan dan mementahkan bahwa perempuan lebih cenderung memakai perasaan sendiri”

Ketika ditanya tentang seringnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga khususnya kekerasan terhadap perempuan, ia menyebutkan bahwa, olehnya itu, wanita bukan hanya bisa mandiri secara ekonomi tetapi juga harus bisa mandiri secara pemikiran karena, ketika tidak ada kemandirian penuh pada diri perempuan maka, ada celah celah kelemahan yang menjadi peluang pada diri orang lain untuk menyakitinya, apakah itu kekerasan psikis, kekerasan fisik atau kekerasan verbal dan kekerasan seksual.

“Ketika tidak ada kemandirian penuh pada perempuan, maka, ada potensi potensi ada celah celah bagi seseorang untuk melakukan tindak kekerasan terhadap wanita tersebut baik itu kekerasan fisik, psikis, verbal atau kekerasan seksual,”

“Kekerasan fisik itu adalah pemukulan, kekerasan Psikis itu adalah di Psikologi perasaan dan kejiwaannya yang diserang. Kekerasan Verbal adalah kata-kata kasar. Kekerasan seksual adalah memaksa perempuan melakukan sesuatu diluar kehendaknya. Nah olehnya itu, untuk mencegah semua ini perempuan harus bisa memiliki kemandirian penuh,”

Misalnya lanjut Andi Sri Wulandani, kemandirian ekonomi harus dibarengi dengan kemandirian pemikiran ke kemandirian kesadaran, kemandirian kehendak, dan itu memang tidak mudah karena ada karena ada konstruk budaya yang selalu menyudutkan perempuan bahwa perempuan itu lemah

Ditanya terkait kapasitasnya sekarang sebagai ketua KPU ia mengatakan,

“Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi ketua KPU karena sebelumnya saya berpikir untuk melanjutkan studi saya di luar negeri. Tapi dalam perjalanan ada peluang yang saya lihat, lalu saya mendaftar kemudian mengikuti seleksi dan ternyata saya lolos”

“Setelah saya sudah berada didalamnya saya senang karena, didalam itu banyak hikmah, ada dinamika dan otak saya itu bekerja terus. Saya senang kalau otak saya bekerja keras dan ruang sadar saya aktif terus dan itu memang saya butuhkan untuk penguatan saya sebagai perempuan dan saya anggap, ini juga sebagai penempatan mental”

Ditanya bahwa sebelum itu, dirinya tidak pernah kepikiran akan masuk ke dalam ranah Komisioner KPU yang tentu sebelumnya belum memahami tentang aturan-aturan yang ada di KPU ia mengatakan,

“Iya…. sebelumnya, saya memang tidak pernah kepikiran untuk menjadi ketua KPU. Tapi, belajar tentang politik, belajar undang-undang sudah saya kaji di kuliah saya, karena saya adalah Sarjana Ilmu Poliitik jadi, selalu belajar tentang politik dan belajar undang-undang. Saya memang suka membaca, saya suka membaca Wacana Sosial kemasyarakatan, kemudian saya juga terjun di riset, saya punya lembaga riset, lembaga riset saya itu pernah melakukan survei tentang sosial kemasyarakatan dan politik. Jadi kalau tentang dunia politik, wacana politik, itu sudah sering. Akhirnya muaranya kesini, jadii saya sudah tidak kaget menghadapi orang, masyarakat, menghadapi konflik, karena saya juga berlatar belakang organisasi dan aktivis perempuan,”

“Kalau bagi saya, KPU itu adalah ruang bagi saya untuk berkontribusi sebagai penyelenggara pemilu untuk mensukseskan demokrasi. Secara pribadi, itu juga penempatan mental bagi saya”

Ditanya bahwa KPU itu memiliki tanggung jawab moral yang besar terhadap masyarakat bangsa dan negara yang tentunya banyak cobaan yang mana KPU itu nantinya akan dituntut untuk independen dalam hal pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu apakah dirinya siap menghadapi semua itu? , ia menjawab

“iya pastinya saya siap, saya adalah orang sadar hukum, saya tuntas mengkaji regulasi pemilu, dan saya tahu konsekuensinya ketika saya berada di KPU bahwa akan ada sanksi ketiga orang tidak bert integritas dan tidak independen”

“Diluar daripada hukum itu sendiri memang pada dasarnya saya adalah orang yang independen dan saya merasa setiap orang itu memiliki hak yang tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain”

Ditanya terkait masalah kesiapannya menghadapi dunia perpolitikan bahwa sebagai seorang penyelenggara pemilu yang tentu memiliki banyak cobaan dan tantangan ia mengatakan,

“Saya kira saya siap, seperti yang saya katakan tadi bahwa bagi saya ini adalah salah satu penempatan mental, terus ke depan saya kira semakin dinamis dan saya optimis bisa melewati semua ini. Prinsip saya, tidak ada pelaut yang lahir dari ombak yang biasa-biasa saja. Pelaut yang ulung adalah pelaut yang bisa melewati ombak yang besar dan bagi saya, ini adalah merupakan tantangan yang positif dan saya siap,”

“Kenapa saya siap, karena, Regulasi pemilu itu kan Hukum. Supremasi Hukum itu adalah Panglima dan di KPU itu menggunakan Logika Hukum

“Jadi saya kira semua orang pasti sadari itu, se kotor apapun cara orang, tidak bisa dia melawan Hukum, logika hukum tidak bisa dilawan karena hukum itu selamanya hitam putih. Kalau orang mau melawan logika hukum sama halnya dengan melabrak tembok

Ditanya terkait kedepannya setelah usai dirinya menjadi seorang ketua Komisioner KPUD Soppeng. Apa konsep-konsep ke depan yang akan dilakukan pada dirinya sebagai seorang perempuan, ia menjawab,

“Kalau saya dapat beasiswa, saya akan sekolah di luar negeri”

Ditanya lagi apa yang menjadi cita-citanya ke depan ia menjawab,

“Kalau saya cita-cita ingin menjadi seorang pemimpin di sebuah wilayah atau tempat, ya… saya tidak tahulah apa, entah itu menjadi seorang kepala daerah atau walikota kesemua itu untuk membuktikan bahwa perempuan itu bisa punya kemandirian, perempuan itu mampu menjadi seorang pemimpin”

Di singgung bahwa sekarang ini dirinya juga adalah seorang pemimpin yakni ketua Komisioner KPU, bagaimana perasaannya dalam kesehariannya memimpin karakter yang berbeda-beda, ia mengatakan,

“Ya tentunya ada karakter yang berbeda beda dan pasti ada karakter yang kita anggap bagus dan ada yang kita anggap tidak bagus, tapi saya tidak mau prematur berfikir, artinya, saya tidak mau terlalu dini menilai seseorang, saya butuh waktu yang banyak atau yang panjang untuk menilai seseorang sehingga, perasaan saya sangat ini stabil, emosi saya cukup stabil, perasaan saya juga cukup stabil cuma pikiran saya yang dinamis”

“Saya punya kemampuan membaca karakter dan psikologi orang, dimana semua itu saya dapatkan pada waktu saya di organisasi, saya berorganisasi sudah 10 tahun lebih, macam-macam organisasi yang saya maksuki, saya juga adalah seorang trainer dan itu modal saya yang saya pakai dalam memimpin di KPU”
“Dan kalau mau ditanya bagaimana saya menilai seseorang, saya tidak mau menyimpulkan secara dini, setiap orang memilik perlakuan yang berbeda. karakter A diperlakukan A, karakter B diperlakukan B, tetapi, yang saya pahami sebagai seorang ketua atau Leader saya harus bisa menjadi simpul atau perekat kalaupun saya gagal saya akan upayakan minimal saya harus positif tidak boleh negatif, kalau misalkan ada konflik saya harus menjadi pemecah masalah, saya akan maksimalkan apa yang saya punya untuk sesuatu yang positif”

“Jadi kalau ada karakter yang saya temukan menurut saya kurang bagus maka saya akan hadapi dengan metode tertentu, jadi semua orang itu saya perlukan dengan cara yang berbeda tapi dengan prinsip yang sama, artinya bahwa semua itu orang sama tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah tapi metodenya yang berbeda”

“Sebagai pemimpin apa yang harus saya lakukan, pertama harus netral, kemudian ketika ada konflik harus saya bisa selesaikan se bagaimana seharusnya saya mengambil kebijakan secara tepat, tidak dipengaruhi orang. Kalau untuk di dalam saya harus win win solution itu secara internal, tapi kalau secara eksternal bukan win win solution, tapi harus aturan yang dipakai, seperti yang saya katakan tadi hukum itu adalah hitam putih, karena tidak mungkinlah saya harus win win solution terhadap partai karena didalam KPU itu kan Tim Word ada divisi, ada staf, ada Sekretariat, ada sukarela, ada Komisioner semua itu adalah tim world” tutupnya. (AT)

Berita Terkini Seputar Soppeng Semua Ada Disini> Soppeng Today

Tinggalkan Balasan